- Secara umum pada firewall berbasis kernel linux seperti Mikrotik, menggunakan logic pengkondisian if-then pada setup firewall, seperti ip->firewall->filter. - Pada settingan router firewall tingkat lanjut seperti rule pada routing BGP bisa saja lebih kompleks dengan melibatkan scripting dan operator operator logika seperti and or not. - Pada intinya pada pembahasan studi kasus ini saya ingin menekankan, setup networking pun tetap menggunakan logika terstruktur bukan hapalan config. dari sini kita bisa simpulkan juga seorang network engineer maupun software engineer berangkat dari logic yang sama. Studi Kasus 1 seorang network engineer ingin drop src-address: 192.168.1.0/24 forward ke dst-address: 192.168.2.0/24 dengan protocol:UDP port:53 mau engineer tersebut setup dengan GUI atau Scripting di terminal, logicnya seperti ini: - if(src-address = 192.168.1.0/24 && dst-address = 192.168.2.0/24 && dst-protocol = UDP && dst-port = 53 ) then {DROP} - dari sini kita lihat tidak ada pengkondisian lain seperti else atau elseif. - dalam taraf tertentu terlihat sangat sederhana bukan. - tapi dalam background sebenarnya alurnya sangat kompleks, seperti melibatkan alur chain dan routing decision